Kamis, 30 Juli 2009
Jumat, 17 Juli 2009
Memberi Untuk Memberi
Sebuah gedung tua tampak kokoh, seperti bangunan lain yang tampil ala Eropa di kawasan pemerintahan kota Bogor. Pada pintu gerbang masuk, seperti lazimnya sebuah gedung jaman dulu, jeruji besi dibuat tinggi. Di atasnya terdapat tulisan yang terpatri “Bakorwil”. Jalan menuju gedung diaspal dengan rapi, dikanan-kiri deretan pohon cemara tampak tumbuh subur, sedangkan beberapa pohon besar berdiri tegak menambah kesan tersendiri. Sampai di pelataran gedung, kami tim proses disambut beberapa pamong praja berpakaian biru. Untuk menuju ruang utama kami harus menyusuri anak tangga tangga berkarpet merah yang agaknya sudah lusuh.
Gedung yang sudah mencapai seratus tahun ini terbagi dalam empat ruangan, teras depan yang langsung berhadapan dengan taman istana Bogor, kemudian ruang perkantoran, yang dihuni oleh kepala Bakorwil bersama stafnya. Ada ruang ketiga adalah ruang kira-kira berukuran 15 x 6 meter persegi di sisi kanan kirinya ada dua buah kamar yang dulunya sebagai tempat peristirahatan. Terakhir di bagian belakang, terdapat dapur dan koridor yang menyambungkan dengan sebuah kamar. Layaknya sebuah gedung ala Eropa, terdapat ruangan dekat dapur menghadap ke arah selatan, tepat dimana gunung Salak berada. Biasanya tempat ini ada meja makan besar sebagai tempat para petinggi pemerintahan Belanda menyantap makan malamnya. Dan mungkin kebiasaan itu sekarang masih berlangsung.
Namun, pada malam yang lambat itu semua berubah, gedung pemerintahan disulap menjadi sebuah tempat pagelaran. Di keresidenan inilah sebuah acara ‘seni’ dan sosialisasi program ketataruangan digelar. Kurang lebih bertemakan “Pagelaran Seni Sangkakala Padjadjaran dalam Rangka Meningkatkan Sinergitas Pembangunan Provinsi Jawa Barat Dengan Kabupaten dan Kota Se-Wilayah Bogor”.
Menjelang adzan Magrib, para tamu undangan mulai memenuhi koridor teras sampai ruang tengah. Selepas isya acara baru dibuka dengan bahasa warisan bangsa, Bahasa Sunda, bahasa yang mungkin sudah tidak lazim dipakai dibeberapa daerah bufffer, seperti Bogor, Depok Tanggerang, Bekasi, karena derasnya imbas budaya metropolis. “Jadi wayahna, jang urang wetan nu hadir ayeuna, bahasa sunda nu dipake panganteur acara ieu,” tutur Sekretaris Daerah provinsi Jawa Barat, Setia Hidayat.
Sederetan alat musik tradisional khas Sunda berderet lengkap, berserta 45 orang termasuk pemain gamelan, sinden, penari, penata lampu dan penata suara. Konon, satu set perlengkapan gamelan saja mencapai angka 100 juta belum ditambah dengan audio system. “Namun, kita ke Bogor mengundang para pejabat pelaksana pemerintahan bukan untuk pamer kemampuan, atau menyombongkan mahalnya perlengkapan,” tampik Setia.
Dengan budi bahasa yang halus, ia mengaku sering berfikir, bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan ketataruangan kepada masyarakat luas. Supaya dapat dimengerti dan dipahami dengan bahasa mereka. “Ternyata, penyampaian pesan itu lebih efektif ketika tarkim mengundang Ibing, Asep Taruna, Acil Bimbo, Ketua KPU Setia Permana, Asep Sunandar Sunarya,” akunya.
“Alhamdulillah”, menurutnya pesan lingkungan pemukiman sehat atau yang suka wayang golek, pesannya adalah sosialisasi lingkungan pemukiman sehat gaya si cepot. Jadi diterjemahkan bahasa pesan itu dengan gaya khas si cepot. “Alhamdulillah, bisa menerap tapi belum menyerap,” karena tidak mungkin cukup dengan sekali,”katanya. Bila dibandingkan dengan sosialisasi formal tanpa membawa sembako yang datang hanya 200 orang dan alhamdulillah tidak dipedulikan. Tapi dengan kemampuan seni Asep Sunandar Sunarya, 15.000 orang datang, tanpa diundang sekalipun.
Ia mengatakan pernah melakukan sosialisasi di Cianjur, tapi pejabat pokoknya alhamdullillah tidak ada yang datang. “Naon cenah Cianjuran, Cianjuran mah lieur, mendingkeneh lalajo bujur si Inul. Sekarang pun saya memberikan sebuah suguhan penggalan budaya Sunda, sebab keterpurukan bangsa Indonesia akibat tidak memiliki jati diri,” katanya.
“Lamun teu ngarasa reueus, teu nagarasa bangga ku bandana sorangan, masih keneh resep aadean ku kuda beureum, gagah teh baju jeung perhiasan bati meunang nginjeum, teu aya percaya diri, teu aya aura nu kaluar, da kabeh meunang nginjeum,” tutur Setia.
Tapi karenanya sambung Setia, ketika membuka kembali budaya Sunda semua perumpaman kondisi kekinian ada dalam Rumpaka Mamaos, Kinanti Layar, isinnya: ibarat abdi teh ngalun dina cai caah tarik duka dimana nyangsangna, dibuntang-banting ku cai, ngambangkeun darajat awak. abdi teh gaduh piunjuk, manawi bahan katampi, apan agan mah bujangga. Mudun mipir-mipir pasir, mapah mapai-mapai jungkrang, nongtoreng sora totongeng taeng tongeret bangenan, patembalan jeung baturna ngungkut-ngungkut ngungklung subuh disada eujeung baturna.
Dalam bahasa Sunda, Setia menafsirkan isi rumpaka tersebut. “Na da ieu teh pesen simbolis, sakumaha engkak-engkakkannana 10,8 juta masarakat nu aya dina garis kemiskinan di Jawa barat, 40 juta ngisi di weweton jawa barat, arapal heuntu urang teh, yen fokus dina pangwangunan teh perlu pisan yen repormasi birokrasi jang babarengan nuntaskeun sakabeh persoalan nu aya jang ngangkat darajat nu keur ngambang jiga kieu ka darat sina harirup deui sina lalunta deui, sina arusaha deui sina produktif deui, eta teh geuning aya mun urang mendak, tapi mun urangna leukeun neangna. Jadi sarleresna mah adab tartib Jawa Barat mah kieu, ngan ku urang kaleuwileuwi wae, jadi we loba demo. Padahal aspirasi mun tea mah disalurkeun, maranehna teh nganggap urang bujangga. Ari bujangga teh tadi jeung hatena teh luar biasa pekana teh, nganggap na teh.... Da ari nerangkeun nu kieu mah kudu di waktu nu khusus, soalna aya rarasan nu jadi ukuran.”
Sesaat kemudian, suguhan seni sangkakala padjadjaran digelar... Dentuman gendang seakan menghenyakkan dada bersamaan dengan sahutan bunyian gamelan lainnya, menyatu dalam lantunan syair dan gerak tari para pelakonnya.
Kami terdiam dan berbisik dalam hati, mungkin dapat dikatakan terkesima: “Dalam keadaan seorang sekda yang memiliki otoritas tinggi dan dihormati bagi setiap stafnya, ia masih menjaga perasaan orang lain yang sebenarnya baginya orang lain itu adalah teman sepekerjaan. Walaupun mereka datang dalam acara itu telah menanggalkan segala atribut otonomi di daerahnya masing-masing...”
Saya memandang ke seluruh ruangan. Apa artinya “orang lain”, pada saat seperti ini? Beberapa orang yang saya kenal hadir dalam acara ini, mereka berpangkat tinggi di level pemerintahan, tapi dengan tekun mereka mengikuti dan memperhatikan seluruh jalannya cerita. Atau orang –orang yang kebagian duduk di belakang panggung pun terlihat demikian. Saat dimana otonomi menjadi segala acuan dan kebanggan juga euforia tanpa batas...
Saya mendengarkan tutur sekda sebagai pemilik ‘hajat’ ini dan tiba-tiba: hidup bisa sangat berbeda, jika pusat dunia tidak ada lagi. Kita tahu “pusat” itu biasannya dilekatkan dengan tapal batas yang sempit di dekat diri sendiri. Dan saat itu rasanya tapal batas dan pusat dunia raib dan ruang yang “soliter” pun digantikan oleh yang “solider”. Dunia jadi ramah. Bahkan yang memilki otoritas masih menjaga perasaan dan karya yang telah dilakukan orang lain, sebagaimana juga sebaliknya.
Ada yang agak ajaib di sini: ternyata beberapa saat lamanya di Gedung ini, semua atribut kebanggaan daerah berhenti di sini, termasuk hitung-hitungan rancangan APBD alias peningkatan ekonomi daerah.
Ekonomi adalah sebuah proses yang bertolak, bukan saja dari kelangkaan, tapi juga pertukaran, daur “memberi dan meminta”. Pasar membuat prosedurnya. Di sana pusat hadir dalam bentuk pamrih. Kepentingan diri dianggap sebagai pamrih. Hubungan berlangsung seperti kontrak.
Tapi mungkinkah itu segala-galanya? Kontrak mengandung asumsi bahwa yang lain-lain akan menerima yang seimbang. Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebab akan selalu ada benda-benda yang tak bisa dipindahtangankan–jimat, pusaka, kenangan, harapan, yang terkadang tersemat dalam benda-benda. Rosul mengajarkan bahwa setiap benda tidak selalu memiliki nilai-tukar. Benda adalah sebuah media mencapai ‘sesuatu’, yaitu ridlo illahi.
Pernah suatu waktu ada pilihan dalam diri untuk memandang dan menikmati hidup tanpa mengacu pada nilai komoditas belaka. Tapi kini pasar menang, dan cita-cita untuk menggantikan ruang yang “soliter” dengan yang “solider” rasanya menjadi barang yang sudah tidak laku.
Memang barang yang tidak laku. Tapi ia adalah sebuah cita-cita yang pernah ada di jaman dahulu kala. Berabad-abad manusia telah mendengar petuah kebajikan ini: jika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kirimu mengetahuinya”. Sebab amal akan hilang nilainnya sebagai amal apabila si pemberinya tergoda oleh perasaan mulia. Amal pun akan hilang maknanya bila keihlasan si penerima harus dibebani utang budi. Tak ada resprositas yang harus kelak dilakukan. Waktu harus seakan-akan tidak ada.
Betapa semua ini penuh dengan paradoks: si pemberi harus merasa mampu melepaskan sesuatu dalam dirinya, tapi pada satu saat yang sama ia harus memandang “sesuatu dari dirinya” itu adalah bagian dari konsep yang tidak ada artinya–konsep ‘milik’. Ia juga harus ikhlas untuk tidak menerima balasan, tapi agar tidak merasa direndahkan, si penerima harus memilki kesempatan untuk membalas dengan sesuatu yang baginya bernilai. Seperti isi cerita sangkakala padjadjaran yang mengisahkan bagaimana seorang Ibu memberikan ‘kasih’ pada anaknya, namun sang anak tidak mengindahkannya. Sampai pada suatu saat sang anak sadar akan ‘kasih’ pemberian sang Ibu dengan memberikan pengakuan atas integritas Ibu dan menyadari segala kesalahan yang dianggapnya sebagai yang paling bernilai.
“Memberi” akhirnya berlangsung sebagai sebuah enigma. Ia seperti sesuatu yang mustahil, tetapi betapa besar artinya. Setidaknya di acara itu bagi penulis menjadi tahu, bahwa dunia bisa ramah, dunia bisa dalam kesedihan, dengan rasa berat memberi. Memberi berarti saling memberi, menolong berarti saling menolong, menerima berarti saling menerima, dan tolong-menolong adalah sebuah drama guyonan yang digerakkan bisa oleh pasar.
Guyonan–adalah sebuah selingan yang sehat, bukan? Terbukti, Banyak contoh dengan sosialisasi tata ruang tersampaikan lewat guyonan, ketika menyuguhkan banyolan ala Sasagon. Tak lama setelah setelah acara pagelaran seni berakhir, tak kurang dari empat orang pejabat tak dikenal penulis, berlomba menyambut tangan (mulus) para penari, sambil berkata genit “Saha namina, neng?”.***(hendyhermawan)
Gedung yang sudah mencapai seratus tahun ini terbagi dalam empat ruangan, teras depan yang langsung berhadapan dengan taman istana Bogor, kemudian ruang perkantoran, yang dihuni oleh kepala Bakorwil bersama stafnya. Ada ruang ketiga adalah ruang kira-kira berukuran 15 x 6 meter persegi di sisi kanan kirinya ada dua buah kamar yang dulunya sebagai tempat peristirahatan. Terakhir di bagian belakang, terdapat dapur dan koridor yang menyambungkan dengan sebuah kamar. Layaknya sebuah gedung ala Eropa, terdapat ruangan dekat dapur menghadap ke arah selatan, tepat dimana gunung Salak berada. Biasanya tempat ini ada meja makan besar sebagai tempat para petinggi pemerintahan Belanda menyantap makan malamnya. Dan mungkin kebiasaan itu sekarang masih berlangsung.
Namun, pada malam yang lambat itu semua berubah, gedung pemerintahan disulap menjadi sebuah tempat pagelaran. Di keresidenan inilah sebuah acara ‘seni’ dan sosialisasi program ketataruangan digelar. Kurang lebih bertemakan “Pagelaran Seni Sangkakala Padjadjaran dalam Rangka Meningkatkan Sinergitas Pembangunan Provinsi Jawa Barat Dengan Kabupaten dan Kota Se-Wilayah Bogor”.
Menjelang adzan Magrib, para tamu undangan mulai memenuhi koridor teras sampai ruang tengah. Selepas isya acara baru dibuka dengan bahasa warisan bangsa, Bahasa Sunda, bahasa yang mungkin sudah tidak lazim dipakai dibeberapa daerah bufffer, seperti Bogor, Depok Tanggerang, Bekasi, karena derasnya imbas budaya metropolis. “Jadi wayahna, jang urang wetan nu hadir ayeuna, bahasa sunda nu dipake panganteur acara ieu,” tutur Sekretaris Daerah provinsi Jawa Barat, Setia Hidayat.
Sederetan alat musik tradisional khas Sunda berderet lengkap, berserta 45 orang termasuk pemain gamelan, sinden, penari, penata lampu dan penata suara. Konon, satu set perlengkapan gamelan saja mencapai angka 100 juta belum ditambah dengan audio system. “Namun, kita ke Bogor mengundang para pejabat pelaksana pemerintahan bukan untuk pamer kemampuan, atau menyombongkan mahalnya perlengkapan,” tampik Setia.
Dengan budi bahasa yang halus, ia mengaku sering berfikir, bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan ketataruangan kepada masyarakat luas. Supaya dapat dimengerti dan dipahami dengan bahasa mereka. “Ternyata, penyampaian pesan itu lebih efektif ketika tarkim mengundang Ibing, Asep Taruna, Acil Bimbo, Ketua KPU Setia Permana, Asep Sunandar Sunarya,” akunya.
“Alhamdulillah”, menurutnya pesan lingkungan pemukiman sehat atau yang suka wayang golek, pesannya adalah sosialisasi lingkungan pemukiman sehat gaya si cepot. Jadi diterjemahkan bahasa pesan itu dengan gaya khas si cepot. “Alhamdulillah, bisa menerap tapi belum menyerap,” karena tidak mungkin cukup dengan sekali,”katanya. Bila dibandingkan dengan sosialisasi formal tanpa membawa sembako yang datang hanya 200 orang dan alhamdulillah tidak dipedulikan. Tapi dengan kemampuan seni Asep Sunandar Sunarya, 15.000 orang datang, tanpa diundang sekalipun.
Ia mengatakan pernah melakukan sosialisasi di Cianjur, tapi pejabat pokoknya alhamdullillah tidak ada yang datang. “Naon cenah Cianjuran, Cianjuran mah lieur, mendingkeneh lalajo bujur si Inul. Sekarang pun saya memberikan sebuah suguhan penggalan budaya Sunda, sebab keterpurukan bangsa Indonesia akibat tidak memiliki jati diri,” katanya.
“Lamun teu ngarasa reueus, teu nagarasa bangga ku bandana sorangan, masih keneh resep aadean ku kuda beureum, gagah teh baju jeung perhiasan bati meunang nginjeum, teu aya percaya diri, teu aya aura nu kaluar, da kabeh meunang nginjeum,” tutur Setia.
Tapi karenanya sambung Setia, ketika membuka kembali budaya Sunda semua perumpaman kondisi kekinian ada dalam Rumpaka Mamaos, Kinanti Layar, isinnya: ibarat abdi teh ngalun dina cai caah tarik duka dimana nyangsangna, dibuntang-banting ku cai, ngambangkeun darajat awak. abdi teh gaduh piunjuk, manawi bahan katampi, apan agan mah bujangga. Mudun mipir-mipir pasir, mapah mapai-mapai jungkrang, nongtoreng sora totongeng taeng tongeret bangenan, patembalan jeung baturna ngungkut-ngungkut ngungklung subuh disada eujeung baturna.
Dalam bahasa Sunda, Setia menafsirkan isi rumpaka tersebut. “Na da ieu teh pesen simbolis, sakumaha engkak-engkakkannana 10,8 juta masarakat nu aya dina garis kemiskinan di Jawa barat, 40 juta ngisi di weweton jawa barat, arapal heuntu urang teh, yen fokus dina pangwangunan teh perlu pisan yen repormasi birokrasi jang babarengan nuntaskeun sakabeh persoalan nu aya jang ngangkat darajat nu keur ngambang jiga kieu ka darat sina harirup deui sina lalunta deui, sina arusaha deui sina produktif deui, eta teh geuning aya mun urang mendak, tapi mun urangna leukeun neangna. Jadi sarleresna mah adab tartib Jawa Barat mah kieu, ngan ku urang kaleuwileuwi wae, jadi we loba demo. Padahal aspirasi mun tea mah disalurkeun, maranehna teh nganggap urang bujangga. Ari bujangga teh tadi jeung hatena teh luar biasa pekana teh, nganggap na teh.... Da ari nerangkeun nu kieu mah kudu di waktu nu khusus, soalna aya rarasan nu jadi ukuran.”
Sesaat kemudian, suguhan seni sangkakala padjadjaran digelar... Dentuman gendang seakan menghenyakkan dada bersamaan dengan sahutan bunyian gamelan lainnya, menyatu dalam lantunan syair dan gerak tari para pelakonnya.
Kami terdiam dan berbisik dalam hati, mungkin dapat dikatakan terkesima: “Dalam keadaan seorang sekda yang memiliki otoritas tinggi dan dihormati bagi setiap stafnya, ia masih menjaga perasaan orang lain yang sebenarnya baginya orang lain itu adalah teman sepekerjaan. Walaupun mereka datang dalam acara itu telah menanggalkan segala atribut otonomi di daerahnya masing-masing...”
Saya memandang ke seluruh ruangan. Apa artinya “orang lain”, pada saat seperti ini? Beberapa orang yang saya kenal hadir dalam acara ini, mereka berpangkat tinggi di level pemerintahan, tapi dengan tekun mereka mengikuti dan memperhatikan seluruh jalannya cerita. Atau orang –orang yang kebagian duduk di belakang panggung pun terlihat demikian. Saat dimana otonomi menjadi segala acuan dan kebanggan juga euforia tanpa batas...
Saya mendengarkan tutur sekda sebagai pemilik ‘hajat’ ini dan tiba-tiba: hidup bisa sangat berbeda, jika pusat dunia tidak ada lagi. Kita tahu “pusat” itu biasannya dilekatkan dengan tapal batas yang sempit di dekat diri sendiri. Dan saat itu rasanya tapal batas dan pusat dunia raib dan ruang yang “soliter” pun digantikan oleh yang “solider”. Dunia jadi ramah. Bahkan yang memilki otoritas masih menjaga perasaan dan karya yang telah dilakukan orang lain, sebagaimana juga sebaliknya.
Ada yang agak ajaib di sini: ternyata beberapa saat lamanya di Gedung ini, semua atribut kebanggaan daerah berhenti di sini, termasuk hitung-hitungan rancangan APBD alias peningkatan ekonomi daerah.
Ekonomi adalah sebuah proses yang bertolak, bukan saja dari kelangkaan, tapi juga pertukaran, daur “memberi dan meminta”. Pasar membuat prosedurnya. Di sana pusat hadir dalam bentuk pamrih. Kepentingan diri dianggap sebagai pamrih. Hubungan berlangsung seperti kontrak.
Tapi mungkinkah itu segala-galanya? Kontrak mengandung asumsi bahwa yang lain-lain akan menerima yang seimbang. Tapi hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebab akan selalu ada benda-benda yang tak bisa dipindahtangankan–jimat, pusaka, kenangan, harapan, yang terkadang tersemat dalam benda-benda. Rosul mengajarkan bahwa setiap benda tidak selalu memiliki nilai-tukar. Benda adalah sebuah media mencapai ‘sesuatu’, yaitu ridlo illahi.
Pernah suatu waktu ada pilihan dalam diri untuk memandang dan menikmati hidup tanpa mengacu pada nilai komoditas belaka. Tapi kini pasar menang, dan cita-cita untuk menggantikan ruang yang “soliter” dengan yang “solider” rasanya menjadi barang yang sudah tidak laku.
Memang barang yang tidak laku. Tapi ia adalah sebuah cita-cita yang pernah ada di jaman dahulu kala. Berabad-abad manusia telah mendengar petuah kebajikan ini: jika tangan kananmu memberi, jangan sampai tangan kirimu mengetahuinya”. Sebab amal akan hilang nilainnya sebagai amal apabila si pemberinya tergoda oleh perasaan mulia. Amal pun akan hilang maknanya bila keihlasan si penerima harus dibebani utang budi. Tak ada resprositas yang harus kelak dilakukan. Waktu harus seakan-akan tidak ada.
Betapa semua ini penuh dengan paradoks: si pemberi harus merasa mampu melepaskan sesuatu dalam dirinya, tapi pada satu saat yang sama ia harus memandang “sesuatu dari dirinya” itu adalah bagian dari konsep yang tidak ada artinya–konsep ‘milik’. Ia juga harus ikhlas untuk tidak menerima balasan, tapi agar tidak merasa direndahkan, si penerima harus memilki kesempatan untuk membalas dengan sesuatu yang baginya bernilai. Seperti isi cerita sangkakala padjadjaran yang mengisahkan bagaimana seorang Ibu memberikan ‘kasih’ pada anaknya, namun sang anak tidak mengindahkannya. Sampai pada suatu saat sang anak sadar akan ‘kasih’ pemberian sang Ibu dengan memberikan pengakuan atas integritas Ibu dan menyadari segala kesalahan yang dianggapnya sebagai yang paling bernilai.
“Memberi” akhirnya berlangsung sebagai sebuah enigma. Ia seperti sesuatu yang mustahil, tetapi betapa besar artinya. Setidaknya di acara itu bagi penulis menjadi tahu, bahwa dunia bisa ramah, dunia bisa dalam kesedihan, dengan rasa berat memberi. Memberi berarti saling memberi, menolong berarti saling menolong, menerima berarti saling menerima, dan tolong-menolong adalah sebuah drama guyonan yang digerakkan bisa oleh pasar.
Guyonan–adalah sebuah selingan yang sehat, bukan? Terbukti, Banyak contoh dengan sosialisasi tata ruang tersampaikan lewat guyonan, ketika menyuguhkan banyolan ala Sasagon. Tak lama setelah setelah acara pagelaran seni berakhir, tak kurang dari empat orang pejabat tak dikenal penulis, berlomba menyambut tangan (mulus) para penari, sambil berkata genit “Saha namina, neng?”.***(hendyhermawan)
Langganan:
Postingan (Atom)
